Swalayan

Daun-daun bekas lapak pedagang berserakan di mana-mana. Berpindah ke sana kemari dimain-mainkan angin. Debu batu kapur menyebar memenuhi udara di sekitar pasar. Emplek-emplek yang dibangun oleh pedagang meliuk-liuk tertiup angin. Kemarau yang panjang, menambah suasana gersang dan panas. Di beberapa sudut pasar, orang-orang bergerombol. Kasak-kusuk tentang penggusuran pasar semakin santer terdengar.
“Pokoknya, aku tidak mau pindah” kata Yu Iyem penjual sate ayam sunduk.
“Aku iyo, Yem,” timpal Mbok Sami si pedagang gogik.
“Kita protes, Aku ndak trima. Jangan dikira yang bisa demo hanya mahasiswa dan orang-orang yang di atas saja. Kita juga punya hak,” kata Sarni yang dari tadi hanya terdiam. Sarni memang terpelajar dibanding pedagang-pedagang yang lain. Meskipun, ia tidak sempat menamatkan bangku SMA, namun pengetahuannya tentang demonstrasi atau berita-berita penting lainnya sering sekali dilihatnya di TV.
“Aku wedi Sar kalau sampai demo-demoan. Nanti bisa-bisa dipukuli polisi atau kita didor. Ndak ah. Ngeri” kata Yu Iyem.
“Tapi, apa awake dhewe mau diam saja Yu. Pasar kita mau digusur. Ke mana kita akan cari makan?” sergah Sarni.
“Entah Sar, aku mumet. Aku bingung. Apa di negeri ini sudah tidak ada pemimpin yang berjuang demi rakyat ya Sar.” kata Yu Iyem agak berat.
“Entah Yu. Sar kira masih ada. Tapi bisa dihitung dengan jari kita.” jawab Sarni.
“Dengar-dengar, Pak Lurah menyetujui proyek itu. Nanti tempat ini akan dibangun swalayan. Bahkan Sar, katanya Pak Lurah akan menggusur rumah-rumah di sekitar pasar ini.” jelas Yu Iyem.
Udara semakin panas. Sinar matahari semakin menyengat. Para pedagang semakin banyak. Mereka datang ke pasar bukan untuk menjual dagangannya. Mereka diundang Lurah berkumpul di pasar. Sarni, Yu Iyem dan Mbok Sami masih duduk-duduk di atas bale-bale bambu lapaknya.
“Sar, aku tak habis pikir. Selama ini, keberadaan pasar ini tak bermasalah. Tapi kok sekarang ruwet seperti ini.” kata Yu Iyem.
“Ya itu, yang membuat ruwet kan bukan kita. Justru malah orang-orang yang berada di garis depan. Pemimpin-pemimpin kita.” kata Sarni.
“Terus, Pak Lurah memanggil kita itu untuk apa?” kata Mbok Sami dengan nada ketus.
“Aku sebetulnya tak sudi datang ke sini. Paling-paling Pak Lurah mau ngrayu kita. Memangnya kita apa? Bener kita orang kecil tapi bukan berarti wong cilik harus manut. Begitu to Mbok.”
“Betul Sar. Kita tidak boleh nyerah. Aku tak rela Sar kalau pasar ini dijadikan pasar yang kayak di kota. Terus orang-orang kecil seperti kita mau dikemanakan. Di singkirkan begitu saja. Terus kita dan teman-teman kita mau makan apa?” cerocos Mbok Sami.
“Iya, Mbok. Aku juga tidak habis pikir. Seharusnya Pak Lurah berpihak pada kita. Bukan malah menyingkirkan kita.”
“Pokoknya, Sar. Apa pun yang terjadi, aku siap berjuang. Demi harga diri kita, dan juga demi nasib teman-teman kita.” tegas Mbok Sami.
“Aku setuju Mbok. Seandainya putusan pak Lurah nanti menyudutkan kita semua. Aku siap menjadi orang pertama yang menentang Pak Lurah. Bukan berarti aku tidak menghormati Beliau tapi demi keadilan.” suara Sarni penuh semangat.
Udara semakin panas. Wajah-wajah lusuh pedagang semakin kelihatan menghitam. Keringat mereka mengalir seolah di dalam tubuhnya bergolak. Tak sanggup menampung darah yang mendidih kepanasan. Panas oleh suasana pasar dan panas oleh terik matahari. Suasana pasar semakin ramai. Para pedagang semakin kasak-kusuk, bergerombol di sana-sini. Pak Lurah dan cukong yang akan membangun proyek pasar swalayan belum juga muncul. Dari tengah kerumunan, Sarni menyeruak. Ia berdiri di atas bale-bale, milik pedagang belalang.
“Sedulur kabeh. Aku berdiri di sini bukan karena aku ingin minteri Saudara-saudara. Aku di sini, mewakili suara-suara yang terjepit haknya. Aku berjuang demi perut anak-anak kita. Demi masa depan anak-anak kita juga.” jelas Sarni mantap.
“Saudara-saudara, kita wong cilik. Hidup dan makan kita dari daun dan sisa-sisa nasi basi. Kita setiap hari bergelut untuk mempertahankan hidup. Berjualan dagangan kita. Gemana anak-anak kita nanti? Uang saku mereka, ongkos mereka ke sekolah? Kalau pasar tempat kita hidup digusur? Kita mau ke mana? Berdagang di dalam swalayan yang baru nanti? Tidak mungkin!
Saudara-saudara, Bukan kita pesimis. Tidak saudara-saudara. Kita justru optimis. Optimis untuk hidup dan berjuang demi hidup pula. Kita wong cilik. Tapi bukan berarti lemah. Kita harus bersatu. Guyup demi mempertahankan pasar ini.” suara Sarni lantang menyelinap di telinga para pedagang.
“Setujuuuuu…!” suara gemuruh para pedagang kompak.
“Iya Mbak Sarni. Aku siap membantu Mbak Sarni.” suara Pak Marto dari balik kerumunan pedagang.
“Aku juga Sar. Aku juga siap!” kata lelaki penjual domba.
“Kita semua siap.” suara mereka serempak. Menyeruak di antara panasnya matahari.
Matahari mulai bergulir ke arah barat. Suasana jenuh menyelimuti mereka. Orang yang ditunggu-tunggu belum juga muncul. Sarni dan pedagang lain semakin gusar.
“Saudara-saudara, kita di sini sudah hampir dua jam. Kita abaikan anak-anak dan keluarga kita. E… yang dinanti tak peduli. Memangnya, kita pengangguran, sehingga mereka seenaknya sendiri?”
“Iya Sar, katanya kita harus tepat waktu. Katanya juga, waktu adalah uang. Mana buktinya? Jam karet. Apa yang berhak memainkan waktu itu orang-orang yang di atas saja. Keterlaluan.” kata salah seorang pedagang agak keras.
“Kalau begitu, kita bubar saja. Percuma kita nunggu di sini kalau semua tidak jelas.” Kata pedagang yang lain.
“Tenang Saudara-saudara. Agama kita mengajarkan, undangan wajib dihadiri. Kita sudah datang. Berarti secara aturan, kewajiban kita sudah kita penuhi. Kita tunggu 15 menit lagi. Kalau tidak ada tanda-tanda datang, kita pulang.” Kata Sarni lantang.
Bersamaan dengan kata-kata terakhir Sarni, dari kejauhan muncul sebuah mobil Avansa warna hitam. Mobil itu berplat luar kota. Belum terlihat jelas siapa yang ada di dalamnya. Yang jelas mobil itu bukan mobil milik Pak Lurah. Setelah berhenti, pintu mobil itu terbuka. Tampak Pak Lurah keluar dari mobil itu diikuti beberapa orang. Dua orang adalah bawahan Pak Lurah dan tiga orang lagi, belum mereka kenal. Para pedagang saling memandang. Sebagian lagi berbisik-bisik.
“Selamat siang Saudara-saudara.” Pak Lurah memulai pembicaraan.
“Begini saudara-saudara. Saya minta maaf, agak terlambat datang.” jelas Pak lurah melanjutkan pembicaraan.
“Bukan lagi agak terlambat Pak tapi sudah sangat terlambat.” kata seorang pedagang, sedikit dengan nada tinggi.
“Sekali lagi maaf. Tadi ada acara mendadak. Begini Saudara-saudara, saya mengumpulkan saudara semua demi kata mufakat rencana pembangunan swalayan di pasar ini.”
“Mufakat, Pak. Apa tidak salah dengar!” kata Sarni tegas menyela pembicaraan Pak Lurah.
“Salah dengar? Memangnya, apa yang sudah Saudara dengar tentang proyek ini?” tanya pak Lurah.
“Begini Pak. Saya dan pedagang pasar ini tidak setuju dengan pembangunan proyek itu Pak. Titik!” kata Sarni tanpa ada yang ditutup-tutupi.
“Tapi, proyek ini berimbas besar bagi kesejahteraan…”
“Kesejahteraan siapa, Pak? Kami?” sela Sarni, memotong pembicaraan Pak Lurah.
“Benar. Kesejahteraan kalian semua.” tegas Pak Lurah.
“Di mana-mana pembangunan proyek besar itu menyengsarakan rakyat Pak. Apalagi pasar ini. Ke mana kami nanti harus mencari rejeki, Pak?” tanya Sarni.
“Lho, kalian kan bisa pindah; menempati salah satu tempat yang akan kami bangun nanti.” tegas Pak Lurah.
“Kapan Pak. Berapa lama?”
“Mungkin dalam waktu dekat. Kami akan mencari tanah yang baru untuk pembangunan pasar itu.”
“Mencari tanah Pak. Sampai kapan? Terus selama tenggang waktu penantian, keluarga kami mau diberi makan apa Pak? tanya Sarni bertubi-tubi.
Pak Lurah terdiam. Pertanyaan terakhir Sarni seolah membuntukan jalan pikiran Pak Lurah. Pak Lurah juga tidak mengira bahwa warga pasar akan menanyakan hal-hal sampai detail ini.
“Begini Saudara-saudara. Keberadaan swalayan nanti akan memacu perekonomian desa kita. Desa kita kan berada di kota kecamatan sehingga ke depannya sarana-prasarana wilayah kita lengkap.” tandas Pak Lurah.
“Tapi Pak. Apa kita sudah siap? Apa sudah dipertimbangkan untung ruginya. Selama ini, keberadaan pasar tradisional telah membantu perputaran roda perekonomian masyarakat kita. Hasil bumi dan segala tetek bengeknya bisa dijual di pasar itu. Terus, kalau nanti pasar ini digusur, gimana tindak lanjut perputaran perekonomian warga kita Pak. Di satu sisi, warga tidak dapat menjual hasil buminya, sementara di sisi lain saya khawatir sikap konsumtif masyarakat justru dominan sehingga bukan kesejahteraan yang kita peroleh tetapi justru kesengsaraan. Pak, tolong. Tolong dengar suara kami; orang-orang kecil. Kami butuh pengayoman dari orang-orang seperti Bapak. Siapa lagi Pak yang akan memerhatikan kami. Tolong Pak.” suara Sarni mengiba.
“Lagi pula Pak. Saya membaca koran, Sultan kita mengisyaratkan untuk menghidupkan pasar tradisional dan mengurangi pasar yang berbau modern. Itu berarti kearifan lokal harus kita tonjolkan, bukan malah menghilangkan.” jelas Sarni meyakinkan Pak Lurah.
Pak Lurah tertegun. Ia bimbang. Bimbang antara mengiyakan pembangunan proyek pasar swalayan atau membatalkan proyek itu. Kata-kata perempuan di depannya membabat habis keyakinannya untuk memiliki swalayan. Segala harapannya telah luluh lantak disapu logika-logika yang muncul dari arus akar rumput. Akankah berpihak pada pengembang ataukah berpihak pada warganya. Belum sempat berpikir jauh, suara Sarti menghujam lagi.
“Pak, warga kita belum siap untuk itu. Lagi pula, pasar tradisional mengandung banyak filosofinya. Kita diajari untuk saling menghargai. Mencari kata mufakat untuk memutuskan harga pada kedua belah pihak bukan monopoli perorangan. Selain itu Pak, hubungan antar pedagang terjalin layaknya ikatan saudara pak. Apakah seperti itu mau dihilangkan?” tambah Sarti mantab.
Pak Lurah betul-betul kelabakan. Pikirannya terpasung oleh kata-kata wanita yang berdiri di depannya. Kata-kata yang bertubi-tubi menghujamnya. Jangankan untuk berpikir lapang, keluar dari sergapan kata-kata wanita di depannya pun seolah tidak bisa. Terjerembab dalam lingkaran pikiran antara ya dan tidak. Antara nasib warga dan keinginan besarnya. Entah, Pak Lurah benar-benar terhimpit.
“Sau..dara-saudara.” Suara pak Lurah sedikit bergetar. Ia melanjutkan bicaranya.
“Ini benar-benar pilihan yang sangat sulit, namun demi semuanya. Demi memenuhi keinginan warga. Saya memutuskan bahwa pembangunan swalayan di pasar tradisional ini dibatalkan. Betul kata teman saudara-saudara. Pasar tradisional harus tetap dipertahankan. Nilai kearifan lokal yang kental lebih berharga dibandingkan modernisasi yang menguntungkan segelintir orang. Kita dapat maju bukan karena adanya swalayan tetapi adanya pemikiran kritis dari warga, seperti Ibu tadi.”
Sontak kata-kata Pak Lurah disambut dengan suara gempita. Para pedagang bersorak. Mereka berangkulan satu sama lain. Keringat yang mengalir bercampur dengan rasa haru, senang, dan bangga. Pembatalan pembangunan swalayan seolah kemenangan paling berharga bagi mereka. Mereka mengelu-elukan teman mereka, lurah mereka.
“Hidup Sarni, hidup Pak Lurah, hidup pasar tradisional kita.”
emplek-emplek: atap dari anyaman bambu atau daun
gogik: nasi sisa yang dijemur sampai kering
ndak trima: tidak menerima
awake dhewe: kita
yu: sebutan perempuan lebih tua
mumet: pusing
ruwet: runyam, rumit, kompleks, berbelit-belit
wong cilik: orang kecil, masyarakat bawah
sedulur kabeh: saudara semua
minteri: menganggap dirinya lebih pintar
gemana: bagaimana
tetek mbengek: semua yang berkaitan dengan hal tersebut
pengayoman: perlindungan

Karya: Adjie HA
Cerpen Karangan: Karjiyadi, M. Pd.
Facebook: Karjiadi MPd
Penulis adalah guru di SMP N 1 Karangmojo, Gunungkidul di Yogyakarta.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar