Norma, gadis menjelang usia seperempat abad itu menggaruk telinganya
yang ditutup kerudung, kemudian menggosok ujung hidungnya. Entah kenapa
ruang makan yang biasanya adem sekarang terasa gerah. Padahal hari
sedang mendung pula.
“Normaaaa, kamu dengar ndak yang Ibu omongin barusan?” panggil Ibu,
terdengar gemas. si bontot dari tadi seperti mendengarkan, tapi lihat
deh ekspresinya bengong begitu.
“Bu, Norma boleh masuk kamar sekarang yaa? Pliiis. Capek iniii,” pinta
Norma, memelas. Sumpah, badannya pegal, telinganya sakit kelamaan
ditutup ciput kerudung, terus kaki-kakinya pingin segera direndam air
super hangat yang dicampur minyak esensial. Amboi… nikmatnya dunia!
Namun, khayalan itu segera pupus oleh ucapan Ibu berikutnya.
“Kalau belum lihat ini, belum boleh masuk kamar. Aduh ya, Norma, Ibu tuh
sudah susah-susah cariin kamu laki-laki yang pas buat jadi suami, eeeh
kamunya malah ndak peduli gitu,” kata Ibu berapi-api. Sekonyong-konyong
Ibu langsung memasang wajah sedih sambil memegang dadanya. “Sediiih hati
Ibu dibuatnya.”
Norma merasa tidak enak. Didekatinya Ibu, lalu dipeluknya wanita itu
dari belakang. “Maaf deh, Ibu… maafin Norma ya. Sekarang Norma mau
dengarin dengan baik deh,” ujarnya sambil kembali ke kursi tempat dia
duduk tadi, di seberang Ibu. Sementara Ibu terlihat ceria lagi.
Setengah jam kemudian, Norma baru bisa masuk ke kamar. Dengan lelah
lahir batin, dia menghempaskan badannya di atas kasur tanpa dipan.
Fiuuuuuh, seperti hilang semua beban dunia. Sambil memandangi langit
kamar, kabar [tidak] gembira yang disampaikan Ibu barusan
terngiang-ngiang.
“Haaaaah! Itu lagi, ituuuuu lagi!” serunya sebal. Lalu dia ingat kalau
dia belum sholat Ashar. Dia bergegas mengambil air wudhu. Sesudah
sholat, Norma berdoa supaya Allah yang Maha Baik berkenan melepaskannya
dari belenggu tuntutan bersuami dari orang-orang terdekat. Ini
sungguh-sungguh, ya Allah, serius.
Semakin hari, semakin gencar usaha Ibu dan Bapak [juga ikut-ikutan]
menyodorkan foto dan biodata calon menantu. Demi menghormati keduanya,
Norma mau-mau saja membaca biodata-biodata itu meskipun enggan. Pilihan
Bapak dan Ibu enggak ada yang cocok sama seleranya. Yah, meski Norma
sudah memutuskan laki-laki calon suaminya haruslah seorang yang baik
agamanya, tapi dia juga mempunyai kriteria lain dari sang calon.
Tidak merokok, atletis, sehat fisik dan rohaninya, enggak berkumis,
berjanggut tipis-tipis aja, cerdas, mapan, yah… Norma enggak menolak
[banget] kalau sang calon berwajah kiyut seperti personel TVXQ bernama
Shim Changmin itu. Hihi.
“Kalo gitu kamu lamar aja tuh si… siapa? Sinchan?” kekeh Wilda. Salah
satu dari empat sahabat terdekatnya semenjak sekolah di TK [Wilda,
Nabilah, Faizah dan Aura]. Norma manyun. Dia melempar sisa cabe teman
makan mendoannya ke arah Wilda. Mereka sedang berada di butik milik
Wilda.
“Enggak laaah. Dia kan non muslim, beda jauh kualitasnya sama gue,”
dengus Norma. tangannya meraih sepotong mendoan lagi dari piring di
tengah meja.
“Nah, maka dari itu. Kenapa nggak cukup dengan laki-laki yang baik agamanya dan mapan?”
“Waktu lu nerima lamaran Usamah, apa yang lu lihat dari dia?” tanya Norma dengan tampang serius.
Wilda tampak berpikir sejenak. “Karena Abi yang milihin dia buat aku.
Lha, aku mana bisa nolak? Aku percaya sih Abi enggak asal-asalan pilih
calon suami buat anak perempuan semata wayangnya ini, hehe…”
“Itu dia! Beda banget sama Bapak dan Ibuku. Ngerti sekarang?”
“Enggak,” geleng Wilda. “Maksudnya, Bapak sama Ibu kamu asal memilih
calon, begitu? Astaghfirullah… masa ada orangtua yang mau menikahkan
anak perempuannya dengan cowok sembarangan?” dia tampak tidak percaya
sekaligus kaget. Dia pikir orangtua Norma itu orang yang sangat baik.
Masa sih…?
“Enggak, Wil. Maksud aku, Bapak dan Ibu kurang mempertimbangkan dari
sisi agama dan karakter laki-laki tersebut. Asal udah mapan, fisik oke,
mereka sodorin ke aku. Aku kan maunya yang enggak gitu. Percuma dong
kaya, ganteng, kalau agamanya nol gede,” Norma terlihat sedih sekarang.
Wilda jadi kasihan. Di antara mereka berlima, hanya Wilda dan Norma yang
belum menikah. Faizah, Nabilah dan Aura tampaknya hidup bahagia dengan
suami masing-masing. Mereka bertiga menikah di usia 21 tahun secara
bersamaan melangsungkan prosesi akadnya.
Jangankan punya calon. Sejak remaja, Norma sama sekali belum pernah
pacaran apalagi dekat sama cowok. Teman-teman yang berjenis cowok
dijutekin semua. Ada yang bernyali, tapi langsung mundur begitu melihat
tampang tak ramah Norma. waktu kuliah, Norma sudah berjilbab dan sedikit
mengerti tentang agama yang melarang hubungan tanpa status dengan non
muhrim, dia membatasi berkomunikasi dengan laki-laki. Makanya dia
memilih jurusan kedokteran yang makhluk ceweknya lebih banyak dibanding
makhluk cowoknya. Heran kan? Padahal, Norma punya kakak cowok semua.
Tapi tetap saja kalau dekat dengan cowok lain, badannya langsung panas
dingin.
“Yang sabar ya, Ma,” hibur Wilda.
“Iya, iya. Gara-gara kamu mau nikah juga, aku jadi tambah dirongrong Ibu
supaya cepet kawin,” ujar Norma setengah menggerutu setengah
menyalahkan.
“Hah? Maksudnya aku nggak boleh kawin gitu?”
“Mana janjimu yang ingin menikah dengankuuuuu…?,” Norma malah dangdutan.
Mereka jadi saling berbalas lagu dangdut. Untungnya kegeblekan mereka
terhenti karena ada pelanggan butik yang datang hendak mengambil jahitan
baju.
Ini tahun keduanya bekerja sebagai dokter bagian gawat darurat di
rumah sakit Islam milik sebuah partai Islam terbesar di Indonesia. Rumah
Sakit Islam Umar bin Khattab Semarang. Setelah lulus dan menyandang
titel dr di depan namanya, Norma Putri Suherman, dia direkomendasikan
seorang dosennya ke rumah sakit ini. Norma bertugas di unit gawat
darurat. Libur hari Sabtu dan Minggu. Tugasnya sehari-hari menangani
korban-korban luka, kecelakaan, dan semacamnya. Sembari bekerja, Norma
menyelesaikan pendidikan dokter spesialis obsgin alias kandungan di
almameternya, Undip.
Norma menghempaskan diri di kursi ruang dokter jaga. Kopi hitam manis
dalam mug putih polos jadi temannya membaca catatan status pasien.
Kalau saja Senin besok enggak harus menghadiri pernikahannya Wina,
enggak mau deh aku merelakan Happy Sunday-ku buat nongkrongin ruang
jaga. Norma menghela nafas. Besok datang, enggak, datang, enggak,
datang, enggak… datang, enggak datang? Hela nafas lagi. teman-teman
SMA-nya pasti banyak yang hadir di pernikahan Wina. Norma enggan ketemu
mereka. terutama teman-teman cewek. 90% sudah pada nikah, pasti banyak
yang bawa suami atau baby mereka.
Lalu, seperti yang sudah-sudah, entah siapa, pasti bakal ada yang tanya ke Norma dengan sok manisnya. “Norma, kapan nikahnya?”
“Norma, gimana? Apa sudah ada calon suami? Jangan sampai telat lho
nikahnya, nanti keburu tua… aghakjsdufio… asjdfhysodiyg,” terus mereka
saling menimpali. Intinya menyuruh Norma supaya segera menikah. Kemudian
akhirnya, “Apa mau ta’ kenalin sama saudaraku? Cakep lhoo, kerjanya
mapan pula, terus… bla… bla… bla.”
Begituuuu melolo, setiap kali Norma menghadiri undangan pernikahan
teman-teman sekolahnya. Sebel, tao! Sampai panas kuping Norma, sampai
mendidih ubun-ubun, tapi dia menanggapi ungkapan sayang teman-temannya
itu dengan senyuman. Padahal kepingin banget teriak, “Kapan gue nikah ya
terserah gue, kali! Masalah buat loe??”
Tapi, enggak bisa ding. Enggak Norma banget gitu lho. Lamunan Norma
terputus oleh suara sirine ambulan yang baru tiba. Waktunya bertugas.
—
Norma mengintip dari balik dinding di ujung koridor. Lorong
poliklinik kandungan sepi. Aman. Dengan mengendap-endap, gadis itu
mempercepat langkahnya.
“Eh, Dokter Norma!” panggil seorang suster dari arah belakang. Tubuhnya
kurus langsing dengan wajah terkesan jutek. Namanya Suster Rike, salah
satu perawat senior di poli kandungan. Norma berbalik sambil nyengir
polos.
“Hai, Suster. Assalamu’alaikum, apa kabar?” sapanya ramah.
“Wa’alaikumsalam. Dokter mau kemana?” mata Suster Rike menyipit.
“Ehm… ini saya perlu diskusi tugas kampus sama…”
“Dokter Farhannya enggak ada.”
“Oooh,” angguk Norma beberapa kali. Hatinya kecewa. Sang Dokter tidak
ada lagi. kalau tanya kemana Dokter Farhan selama dua minggu ini sama
Suster Rike, pasti dia bakal dicurigai terus ditanya-tanya. Gosipnya
sih, Dokter Farhan sedang pulang kampung. Ada lagi yang bilang Dokter
Farhan sedang melangsungkan pertunangan. Hmmmmmp. Norma kembali ke ruang
jaganya di UGD dengan perasaan merana menggumpal di dadanya. Hikssss.
Suatu sore di Butik Wilda.
Sherina menyanyi lagu Pelangiku dari ponsel Norma. Benda itu tergeletak
di atas meja bundar ruang kerja. Norma sedang di toilet. Tanpa niat
kepo, Wilda menengok nama penelpon di layar ponsel tapi tidak dia
angkat. Lima menit kemudian, Norma kembali ke ruang kerja.
“Tadi ada yang nelpon tuh sampai tiga kali,” kata Wilda memberitahu
sambil tangan kanannya terus menggambar sketsa desain baju. Norma
langsung memeriksa Smartphonenya. Dia terkesiap. Wilda memperhatikan
dengan penasaran.
“Siapa dia, Ma?”
Norma tidak menjawab. Wilda melanjutkan, “Farhan itu yang sering kau cerita ke aku ya? Dokter di rumah sakit tempat kau kerja?”
Sekarang Norma mengangguk pelan, wajahnya masih blank, antara ada dan
tiada. Wilda menghentikan aktifitas menggambarnya dan duduk di seberang
Norma. “Ma, sekarang kau [ka-u] cerita yang sebenarnya sama aku. Apa
hubungan kau sama dokter itu? Kau bilang beliau hanya pembimbing, tapi
melihat ekspresi kau sekarang ya aku enggak percaya kalau hubungan
kalian hanya sekedar guru dan murid.”
Ditatapnya Wilda dengan nanar, kemudian dia menelungkupkan kepalanya ke
atas meja. “Gue suka sama dia, Wil. Mungkin lebih dari sekedar suka. Gue
rasa… gue juga jatuh cinta sama dia,” sedihnya. Wilda tidak tampak
terkejut, dia telah menduga.
Laki-laki itu bernama Farhan Luqmanul Hakim. Dokter spesialis termuda
di RSI Umar bin Khattab. Hari-hari Norma tidak lagi kelabu setelah dia
mengenal pria tersebut dua tahun yang lalu. Memang sih, selama di rumah
sakit Norma jarang berkomunikasi dengan sang dokter. Palingan kalau
Norma butuh diskusi tentang kuliah dan semacamnya [yang diada-adakan
padahal sebenarnya cuman alasan supaya bisa ngobrol sama tuh dokter],
itu pun bisa dihitung jari.
“Masya Allah…,” cetus Wilda. “Lalu, kalian punya hubungan spesial?”
Norma menggeleng. “Kamu tau sendiri, aku mana berani pacaran? Tapi… bisa
dibilang dekat, tapi enggak tau juga sih kalau dia nganggapnya beda.
Cuma sekedar sejawat atau murid, enggak tau deh,” ceracaunya. “Dokter
Farhan itu… duda,” ujar Norma dalam bisikan. Seperti yang dia duga,
Wilda melotot saking kegetnya.
“Mati?” bisik teman Norma itu.
“Cerai,” balas Norma berbisik juga. “Nikah muda waktu lulus SMA, tapi belum punya anak. Dia cerita sama aku.”
“Masya Allah…,” Wilda mengelus jidat. “Umurnya seabad ya?”
“Enggak laaah, emangnya eyang-eyang? Seabad dikurangi enam puluh lima. Sekitar itulah.”
“Hm, berarti selisih sepuluh tahun sama kau ya? Lumayan jauh juga ya,”
komentar Wilda, kemudian segera menutup mulutnya karena melihat Norma
yang semakin nelangsa. Hiii, salah omong deh dia.
Entahlah. Rasa ini apakah dilenyapkan saja ya? Kalau benar Dokter Farhan
sudah akan menikah… Norma merasa dadanya nyeri membayangkan hal itu.
—
“Ayolah, Dik, sampai kapan kamu mau menunda menikah?”
Norma mengerutkan hidung pada Bang Haikal, abang pertamanya. Topik itu lagi.
“Aku itu enggak bisa tenang ya? Di rumah, di tempat kerja, semua pada
nanyain dan nyindir-nyindir kapan aku nikah! Bikin panas tau, nggak?”
Bang Haikal terkekeh. “Lha, makannya, kalau ada yang melamar jangan ditolak terus.”
Bang Adil menimpali dari balik korannya, “Si Adek bukannya menolak, tapi dianya milih-milih.”
Bang Latif ikut nimbrung sambil mengaduk gelas berisi susu cokelat,
“Jangan-jangan Norma sudah punya pacar yang enggak diceritain ke kita.”
Dia mengedipkan sebelah mata ke arah Norma, yang manyun.
“Iyooooa, bully aku lagi, bully! Aku ikhlas kok!” dumalnya.
“Lho, siapa yang nge-bully kamu sih? Heran deh, akhir-akhir ini Norma
sensitif banget kayak pantat sapi,” Bang Latif ngakak sendiri. Selembar
serbet kotak-kotak mendarat ke mukanya.
“Norma, Abang serius nih sekarang. Kasihan bapak dan ibu sudah desperate
nemuin laki-laki yang pas buat kamu, tapi kamu tolak terus,” ujar Bang
Haikal menengahi sebelum Norma dan Latif berantem saling melempar
benda-benda di dapur.
“Soalnya aku belum pengen nikah! Sekolah aja belum kelar!”
“Bohooong. Wilda bilang, kamu sering curhat soal nikah ke dia. it means,
kamu memang sudah kepingin membina rumah tangga,” timpal Bang Adil.
“Dasar Wilda tukang ngadu,” gumam Norma ke dalam mangkok berisi bubur kacang hijaunya.
“Kemarin ada yang melamar kamu lewat aku, Dek,” ujar Bang Haikal. Bukan
hanya Norma yang kini memandangnya, Latif dan Adil pun terlihat ingin
tahu. Namun, Bang Haikal hanya tersenyum penuh arti.
Hari yang dijanjikan itu pun tiba. Tak ada yang memberitahu Norma.
begitu pulang dari RS, membawa sekantung plastik berisi dua kotak donat
Dunkin [untuk mengurangi pening di kepala], Norma melihat ada
ramai-ramai di halaman rumah. Ada tiga mobil mewah dan keren. Pastilah
bukan mobilnya abang-abang.
Norma ragu mau masuk lewat pintu depan. Terdengar suara Bapak
tertawa, cerah. Sekonyong-konyong, Bang Haikal muncul di teras. dia
memanggil Norma yang sedang berusaha membuka pintu samping.
“Bang… ngapain sih, tarik-tarik?” Norma berusaha melepaskan tangan kirinya yang ditarik Bang Haikal.
“Udah, ikut aja. Ada tamu nih buat kamu.”
“Hah? Tamu? Siapa? Norma mau mandi duluu.”
Tapi Bang Haikal sudah menariknya masuk ruang tamu. Mendadak suara-suara
yang tadinya ramai hingar bingar menggelegar menjadi hening. Norma
salah tingkah. Dia mengerling Bang Haikal. Ada Bang Adil, Bang Latif,
Bapak, dan Ibu, serta dua orang tua yang tidak dia kenal, dan para
wanita yang wajahnya sumringah. Tamu buat Norma apaan? Enggak ada yang
kenal kok!
“Nah, ini dia Norma sudah pulang!” Bapak memecah keheningan.
“Wah, indak saloh yo apa yang Farhan cerite pade kite tentang gadis iko.
Sekali pandang sajo Ibu langsung jatuh suko samo dio, parasnya elok dan
terlihat salihah,” ujar seorang wanita paruh baya yang mengenakan baju
kurung dan jilbab rapat. Berseri-seri memandangi Norma.
[Wah, tidak salah ya apa yang Farhan ceritakan pada kita tentang gadis
itu. Sekali lihat Ibu langsung suka sama dia, wajahnya cantik dan
terlihat salihah]
Sementara telinga Norma hanya mendengar nama Farhan. Farhan, Farhan,
kepala gadis itu tanpa sadar berpaling ke kanan. Di salah satu sofa,
duduk seorang laki-laki yang wajahnya sudah tidak asing lagi. dokter
Farhan! Ketika sepasang mata mereka bersirobok, Norma tak sanggup
menahan degup jantungnya yang tidak menentu. Dia tidak sadar kalau Bang
Haikal telah mendudukkannya di sofa dekat Bapak dan Ibu.
Farhan melamarnya! Dokter Farhan melamarnya??? Dia dilamar Dokter
Farhan??? Dokter Farhan?! Apa ini mimpi?? Ini mimpi enggak ya, Allah???
Assalamu’alaikum wa RahmatuLlahi wa Barokatuh
Kepada Norma Putri Suherman. Mungkin kedatangan saya dan keluarga ke
rumahmu hari ini sangat mengejutkanmu. Maka, maafkanlah saya karena
kelancangan ini. Namun, kedatangan kami sekeluarga tak ada maksud selain
untuk meminang Norma menjadi pasangan hidup saya.
Sejujurnya, semenjak perceraian saya dua tahun silam, saya merasa trauma
hendak membina rumah tangga untuk kedua kalinya. Kehadiran Norma dalam
hidup saya merubah segalanya. Sempat terbersit keraguan apakah Norma mau
menerima saya yang duda sebagai suami Norma. namun dengan bimbingan dan
kasih sayang Allah melalui munajat kepada-Nya serta diskusi dengan
orangtua serta saudari-saudari saya, keyakinan saya semakin kuat.
Tak ada yang lebih indah apabila Norma menerima pinangan ini setelah
[juga] bermunajat kepada ALLAH SWT. supaya keputusan Norma mantap tidak
diliputi keraguan setitik pun.
Wassalamu’alaikum wa RohmatuLlahi wa Barokatuh
Farhan
Norma tersenyum lebar. resmi banget surat dari Dokter Farhan. Eh, apa
sekarang dia sudah boleh memanggilnya Abang? Bang Farhan. Jadi, Bang
Farhan menghilang dua minggu ini karena pulang ke Padang, meminta izin
keluarganya untuk melamar Norma. ahai… beneran Norma enggak menyangka!
Berarti selama ini… Dokter Farhan juga menaruh perasaan sama dia? Norma
menggelengkan kepala, masih takjub dengan peristiwa tadi sore. Ini yang
namanya dreamlike kali ya? Tanpa sholat istikharoh pun, Norma telah tau
apa jawaban yang akan dia berikan pada Dokter Farhan. Tapi, dia enggak
boleh reckless. Tetap Allah SWT pemberi keputusan terbaik. Kalau dia
sudah sholat, hatinya akan semakin mantap.
Cerpen Karangan: Syarifah
saya suka menulis sejak SD sampai akhir hayat nantinya karena saya
sangat suka menulis. pengalaman lucu tentang kesukaan saya ini pas kecil
dulu sering diomelin ibu karena sering beli bolpoin dan buku buat
nulis, hehe.