Terlambat…” bisiknya lirih. Sorot matanya tajam menatapku tanpa
secuil pun kata keluar dari bibirnya. Aku hanya terdiam mematung.
Butiran air mata dengan cepat membasahi kedua pipinya. Mata yang
sebelumnya bening itu menjadi merah. Bibirnya gemetar seperti menahan
pedih. Aku menjadi bingung tanpa tahu arti kata yang keluar dari
mulutnya. Ia berlari menuju rumah yang sudah dipenuhi oleh orang-orang.
Sontak kebingunganku semakin menjadi ketika kudengar jerit tangis
yang menyayat malam. Dan yang kutahu, banyak orang hanya menundukkan
kepala menahan tangis mereka.
“Kamu teman anak itu dik..?” tiba-tiba sebuah pertanyaan menyadarkan
kehampaan pikiranku. Seorang laki-laki tua menepuk bahuku dan
menyunggingkan senyum yang terasa aneh bagiku.
“Iya pak..” jawabku lirih mencoba membalas pertanyaannya.
“Sayang sekali.. Ia tidak kembali lebih awal..” ucap lelaki itu lirih
namun entah karena apa, aku merasa seperti tertusuk sebuah belati yang
sangat tajam.
“Mari kita masuk ke rumahnya dik!” ucap lelaki itu sambil melangkah
pelan tanpa menungggu jawabanku. Aku masih terdiam mematung. Lelaki itu
menghilang ditelan banyaknya orang yang datang ke rumah kecil di tengah
desa itu.
—
Semua berlalu begitu cepat. Sepertinya baru kemarin aku kenal Putri.
Saat sang surya memancarkan semburat kemerahan di balik kemegahan Candi
Borobudur yang kokoh… dan waktu aku mendengar dan menyaksikan sebuah
tarian di pelataran candi. Di situlah aku mengenal sosok Putri.
Seorang penari yang cantik menunda kepulanganku sore itu. Langkahku
terhenti saat kudengar alunan gamelan di tengah kerumunan di pelataran
candi. Aku bersandar di sebuah pohon yang ada di tempat itu. Gemulai
gerak penari itu mengikuti irama gamelan. Begitu lentur dan lentik
jemari itu melempar selendang yang melilit tubuhnya. Senyum manis
dilemparkannya ke pengunjung yang ada di sekitar candi, dengan lesung
pipi yang begitu dalam.
Setiap gemulainya mendapat tepuk tangan pengunjung di pelataran candi.
Dalam ketidaksadaranku, tanganku pun ikut bertepuk mengagumi keelokan
penari itu.
Tek..! Tek..! Tek.! Aku tersadar dari kekagumanku. Seorang pemuda
berkeliling sambil menyodorkan kardus padaku. Sebuah tanda untuk
memberikan sumbangan atas pertunjukan yang mereka lakukan. Aku pun
merogoh saku, kukeluarkan selembar uang 10.000 dan kumasukkan ke dalam
kardus itu.
“Terima kasih mas..! Terima kasih..!” ucap pemuda itu dengan sangat
riang. Ia tampak begitu gembira melihat lembaran uang yang ku masukkan
ke dalam kardus bekas itu.
Hari semakin petang dan sang senja mulai menyapa. Iringan gamelan
akhirnya berhenti. Para pengunjung mulai meninggalkan tempat itu satu
per satu. Sementara aku masih terdiam, menyandarkan tubuhku di sebuah
pohon di pelataran candi. Mataku tak bisa lepas dari sosok gadis penari
yang sekarang melepas selendang yang melilit tubuhnya. Kecantikan yang
mempesonaku tak juga pudar meski ia sudah tak lagi berdandan. Selendang
dan kain jarik dilipatnya cepat-cepat. Rambutnya tergerai ditiup sang
bayu, menutupi paras yang elok, di bawah lampu pelataran candi yang
mulai menerangi.
“Pasti akan jadi daya tarik bagi pembaca, jika pekerjaan gadis itu kutulis menjadi berita..” gumamku sambil tersenyum.
Pemuda yang tadi menodongkan kardus padaku, mendekati gadis itu dan
menyerahkan hasil mengamen mereka. Dengan cekatan, gadis itu
memasukkannya dalam tas.
“Selamat ya..! Anda menari dengan sangat indah.” ucapku membuatnya
terkejut. Kuulurkan tanganku memberinya ucapan selamat. Ia memandangku
dengan ragu dan membalas uluran tanganku dengan kebingungan yang
terpancar dari matanya.
“Terima kasih, Mas..” hanya itu yang terucap dari mulutnya. Gadis itu menarik tangannya dan bergegas pergi meninggalkanku.
Hari berganti malam dan aku tak juga bisa memejamkan mata. Pikiranku
selalu teringat sosok gadis itu. “Siapakah dia? Di mana rumahnya?”
Pikiran itu terus menggangguku.
—
Kamera masih tergantung di leherku. Aku kembali mencari obyek untuk
kujadikan berita di surat kabar tempatku bekerja. Rasa penasaran
terhadap gadis penari itu masih terus mengusik pikiranku.
“Aku harus menemuinya sore ini.. Pasti sore ini dia akan menari lagi.”
Itu yang muncul dalam pikiranku, ada keinginan sangat besar untuk segera
mengusir rasa penasaranku ini. Namun tak juga kujumpai gadis itu.
—
Seminggu telah berselang. Putus rasa telah menghinggapi perasaanku.
Di tengah keputusasaan dan rasa penasaranku, tiba-tiba aku dihentakkan
oleh suara gamelan yang kudengar dari kejauhan. Sontak tergugah
semangatku untuk mencari tempat di mana suara gamelan itu berasal.
Begitu girangnya aku saat mataku tertuju pada sosok gadis yang kucari
itu. Dengan pakaian sama yang dipakainya waktu itu.
Aku duduk di sebuah kursi. Menikmati gemulai gerak tubuh gadis itu.
Saat semua sudah selesai, aku berlari kecil menghampirinya. Gadis itu
tampak terkejut dengan kedatanganku.
“Jangan sampai aku kehilangan kesempatan ini lagi” pikirku.
Gadis itu mulai mengemasi barang-barangnya dan segera melangkah pergi.
“Mbak..! Mbak..! tunggu sebentar Mbak..” teriakku.
Gadis itu nampak kaget dan semakin mempercepat langkahnya. Aku berlari
dan berhenti tepat di depannya, sehingga membuat langkahnya terhenti. Ia
nampak gusar dengan tindakanku, namun aku tak peduli.
“Maaf mbak, masih inget saya kan?” Gadis itu diam tidak menjawab.
“Mbak, nama saya Ray. Ray Adrian. Saya wartawan.” Aku perkenalkan diriku tanpa peduli dia tak mengacuhkanku.
“Boleh ngobrol sebentar mbak? Saya ingin menulis artikel tentang
pekerjaan mbak sebagai penari..” kataku sambil kusodorkan kartu
pengenal wartawan milikku.
Gadis itu kaget dan terlihat gugup. Sejenak tatapan heran muncul dari matanya.
“Maaf mas, tapi saya harus segera pulang, saya sudah ditunggu” jawabnya
lirih sambil melirik jam tangan butut yang melingkar di tangannya.
“Sebentar saja mbak, 15 menit..” ucapku memintanya untuk tinggal.
“Maaf mas, tapi saya harus segera pulang..” jawabnya.
“Ayolah mbak. sebentar saja.. Nanti artikel tentang pekerjaan mbak akan
dibaca banyak orang. Dan mbak akan semakin dikenal orang..” aku mencoba
membujuknya. Sialnya pernyataan itu dijawabnya dengan gelengan kepala.
Aku kebingungan mencari akal untuk bisa membujuknya. Sampai akhirnya aku mengambil sebuah keputusan yang agak nekat.
“Ok mbak.. Begini saja, bagaimana jika mbak saya beri imbalan untuk wawancara kita? 100.000?”
Tidak biasanya aku nekat melakukan hal seperti ini. Namun sepertinya usahaku akan berhasil.
“Tapi..” gadis itu berkata lirih dan tampak gelisah.
“Gak usah takut mbak. Saya bukan orang jahat kok.. Atau kalo 100.000 kurang, nanti aku tambahin deh.” kataku.
Dan akhirnya gadis itu menganggukkan kepalanya. “Yes!!” akhirnya berhasil kuajak gadis itu ngobrol di sebuah tempat makan.
“Mau makan apa mbak?” tanyaku sesaat setelah dia duduk.
“Nggak mas, makasih..” jawabnya. Kegelisahan kembali tampak di raut mukanya.
“Minum?” tanyaku dan dijawab dengan sebuah anggukan pelan.
“Nama mbak?”
“Putri.” jawabnya lirih penuh dengan kegelisahan.
Kukeluarkan catatan kecil dari sakuku.
“Nama lengkapnya?”
“Putri Prameswari, Mas..”
“Sejak kapan menari mbak.. putri?”
“Sejak lulus SMP mas..”
“Sekarang kelas berapa mbak?”
Ia tertunduk dan hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Mbak..??”
“Saya nggak lanjut sekolah lagi mas..”
Kegelisahan itu kembali tergurat dalam raut mukanya. Ia kembali melirik jam tangannya.
“Umur mbak?”
“19 tahun.”
Ia tampak semakin gelisah dan berkali-kali melihat jam.
“Kenapa mbak??” tegurku mengagetkannya. Kugeser tempat dudukku
mendekatinya dan dia tetap diam. Tiba-tiba dia berdiri dan melangkah
pergi meninggalkan aku.
“Mbak Putri..” dengan cepat tangan kananku meraih tangannya. Dan aku tak
peduli lagi walaupun di sekelilingku banyak orang yang tersenyum
melihat tindakanku.
“Kita belum selesai wawancara.. Tolong dong selesaikan dulu” kembali
suaraku keluar dan tak sadar agak keras mengangetkannya. Putri nampak
gugup dan sebentar kemudian bibirnya mulai bergerak gemetar.
“Tapi saya harus segera pulang mas.. Maaf..” ucap Putri dengan tatapan yang sedih.
“Ada hal penting? Atau, takut dimarahi orangtua kamu karena jam segini
belum pulang?” tanyaku. Kulihat jam tanganku yang menunjukkan angka
18.30.
Putri hanya terdiam dan menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatapku.
Sial..!! Susah amat gadis ini kuwawancarai! Begitu pikirku dalam hati. Kukeluarkan selembar uang 100.000 dan kuberikan padanya.
“Ok, kita lanjutkan obrolan kita ya..” aku mencoba mengajaknya kembali
ngobrol. Tetapi ia tampak makin gelisah dan murung. Akhirnya habis
akalku untuk mencoba mengajaknya bicara.
“Baiklah, kita lanjutkan besok saja. Sepertinya mbak Putri sedang punya
pikiran. Boleh saya antar pulang? Biar saya tahu rumah mbak dan besok
bisa dilanjutkan besok di rumah mbak Putri saja.” Ucapku menyerah sambil
memberikan tawaran untuk mengantarnya pulang.
Dan jawaban Putri hanya berupa anggukan kecil.
—
“Ayo dik.. masuk ke dalam..” aku tersentak kaget ketika lelaki yang tadi bertanya padaku kembali berdiri di sampingku.
“Nggak baik kalo cuma di sini..” ia mengajakku masuk dan aku begitu saja
menuruti ajakannya. Orang-orang di tempat itu memandangku dengan
tatapan asing. Aku berhenti dan sesaat kemudian aku bertanya pada lelaki
tua yang mengajakku masuk tadi.
“Pak, siapa yang meninggal?” tanyaku berbisik.
“Dino, adik Putri.” kata bapak itu singkat dan sontak membuatku
tersentak dan tertunduk lesu. Kerongkonganku terasa kering dan nafasku
sesak.
“Dino sudah seminggu ini sakit keras. Putri ingin membawa Dino ke rumah
sakit, tapi keluarga mereka tak punya uang. Putri jadi tulang punggung
keluarganya mencari uang dengan mengamen sebagai penari. Tapi sayang,
Dino meninggal petang tadi jam 18.30.”
Aku terdiam. Keringat dingin mengucur deras membasahi tubuhku. Pukul
18.30 adalah saat aku memaksa Putri untuk kuwawancarai. Dan aku yang
menyebabkan Putri tidak segera pulang saat adiknya menghembuskan nafas
terakhirnya. Aku berdiri dan mencoba melangkah dengan kaki yang sangat
berat. Tatapan orang-orang di sekitarku yang kurasakan asing, kini
kurasakan sebagai sebuah ungkapan bahwa aku membuat Putri kehilangan
kesempatan terakhir menemui adiknya sebelum meninggal. Nafasku seakan
berhenti, ketika dari pintu aku hanya bisa melihat Putri menangis
histeris memeluk dan menciumi tubuh adiknya yang telah terbujur kaku.
Tubuhku semakin basah oleh keringat dingin dan semuanya sudah
terlambat..
(shn)
Cerpen Karangan: Setyo Hari Nugroho
Blog: http://themoment2remember.wordpress.com/