“Mamas’e dulu kan sering manggung.. Jadi, yaa dari situ lah bisa
masyhur. Apalagi didukung dengan suara yang sama nggantengnya dengan
muka mamas’e ini. Tahu sendiri lah, hehe..,”
Ya. Waktu itu, aku tergabung dalam IPQI (Ikatan Pelajar Qori’
Indonesia). Karena saking masyhurnya, sekelompok mahasiswa tanah air
yang tergabung dalam komunitas ini sering mendapat undangan dari
berbagai pelosok negeri. Helwan, Aswan, Isna, ataupun Bani Syuaib sudah
pernah kami singgahi. Tak jauh dari nama komunitas kami, qori’.
Begitulah. Kami melantunkan ayat-ayat al quran di berbagai acara.
Aswan. Nah, dari sana ceritaku bermula.
Undangan di daerah Aswan begitu mengesankan. Lebih-lebih, kami
dipertemukan dengan pak gubernur, Syeikh Umar Hasyim, dan seorang habib
yang hubungan darahnya paling dekat dengan Rasulullah pada masa itu.
Kami bersama satu ruangan dalam jamuan acara itu. Mengesankan. Membuat
hati ini terkadang menjadi sesak bangga. Bagaimana tidak? Masyarakat
berderet puluhan meter untuk ngalap barakah dari habib tersebut.
Sedangkan kami? Kami dengan sangat mudah mendekati beliau. Bukan hanya
berjabat tangan, kami dijamu dalam satu ruangan bersama tokoh-tokoh
besar lainnya.
Itu yang benar-benar menyesakkan dada dengan bangga. Ada juga yang
membuat hati ini senantiasa bertahmid sembari tersenyum kecil tatkala
melihat gambaran-gambaran kenangan itu muncul untuk diceritakan.
Sarah. Gadis belia Mesir yang duduk di bangku tsanawiyah (setingkat
SMA di Indonesia) termasuk dalam rombongan dalam satu ruang jamuan.
Komunitas teater yang ia ikuti juga diundang dalam acara tersebut. Ia
gadis yang paling cantik dari semua gadis cantik dalam rombongannya. Ya.
Memang sulit sekali memberi predikat jelek bagi gadis-gadis Mesir.
Entah kenapa. Nampaknya, Sarah tahu dan meyakini kecantikan yang ia
miliki. Senyum-senyum manis yang selalu berusaha untuk disembunyikan dan
gelagatnya yang lebih menjaga setiap geriknya, mudah sekali dibaca.
“Dia itu baca puisi sambil memerankan seorang ibu-ibu Palestina yang
menggendong anaknya.. Gila, bener-bener gila pokoknya. Cantiknya itu
lho.. Auranya beda dari yang lain.. Tadinya tak kirain sama seperti
temannya yang lain. Ternyata dia tampil sendiri. Bukan main cantiknya,”
Pengaruh kecantikan Sarah pun secepat kilat membuat suasana
teman-temanku tidak karuan. Mulai dari kusuk-kusuk perbincangan dengan
bahasa Indonesia yang tidak mungkin mereka pahami hingga foto-foto yang
sebenarnya lebih mengarah ke siapa yang ada di belakang. Aku hanya bisa
mangkel dengan perilaku teman-teman yang menjepret sembarangan tanpa
ijin itu. Jiwa tak ingin kalah saingku kumat.
“Gimana caranya aku bisa dapat nomernya. Aku ndak akan ikut pulang sebelum dapat nomer gadis itu,”
“Kamu kira aku langsung tau namanya gitu? Sarah? Yaa ndak lah..,”
Awalnya, aku berkenalan dengan salah satu temannya. Dengan lagak
tidak paham dengan puisi yang dibawakan gadis cantik yang saat itu
tampil di panggung sendirian, aku bertanya pada Hajar, nama teman Sarah.
Tentunya dengan trik menarik simpati gadis Mesir. Bicara perlahan,
jelas, dan lebih memilih diksi fusha daripada amiyah.
“Itu apa sih maksudnya? Apa yang dia lakukan itu?”, sambil nada benar-benar nol paham apa yang dibawakan Sarah dalam panggung.
“Isi puisinya itu gimana? Tentang apa sih?”, sergahku.
Hajar dengan riangnya mengejawantah apa yang dibawakan Sarah meski
aku pun sebenarnya tahu apa yang sedang disuguhkan di panggung. Dengan
sigap aku bertanya,
“Itu juga teman kamu ya? Yang tadi bawain puisi itu lho.. Hebat ya?
Siapa namanya?”, jurus pelan tapi pastiku mulai aku canangkan.
Ngalor-ngidul Hajar menjelaskan semua yang aku tanyakan hingga pada apa yang sudah aku tunggu sedari tadi.
“Namanya Sarah,”
Senang sekali. Entah kenapa. Seperti ada yang membuat hati ini begitu
‘waahh’. Senyum, senyum, berkali-kali senyum aku selipkan di tengah
ngobrol dengan Hajar. Hingga menuju kamar penginapan yang disediakan
panitia acara pun aku masih asyik dengan senyum riangku. Sarah.. Sarah..
Sarah.. Yes. Nama sudah beres. Aku tetap tidak lupa dengan tujuan awal;
aku dapatkan nomer hapenya.
Saat itu waktunya sholat, kebetulan di 2 hari menjelang akhir acara
besar-besaran itu kami dan semua tamu undangan digabungkan dalam satu
gedung. Semuanya. Tak terkecuali rombongan Sarah.
“Gimana caranya aku bisa liat Sarah, bertatap muka langsung? Yaa meski hanya lewat depan kamar rombongannya itu..”
Akhirnya aku memutuskan bergegas pulang dari masjid menyendiri. Aku
sengaja lebih dulu dari teman-temanku, rombongan IPQI dan beberapa
pemuda Mesir yang ternyata bagian dari komunitas teater Sarah juga
Hajar. Aku melangkah dengan sejuta harap.
“Kaget! Kaget sekali.. Dia mendekat ke aku.. Gadis yang kemarin aku takjubi dari kejauhan itu sekarang mendekat! Dekat sekali.”
Mukaku memerah. Memerah bersama hawa desir desak di dada. Masuknya
huruf-huruf dari kata yang diucapkan Sarah sangat lambat berjalan
melewati telinga. Sampai aku tanya dua kali.
“Eih? Ma’leisy, eih?”,
“Andak Mir’ah? Mir’ah..”
Aku tak bisa langsung merespon. Bodoh sekali. Seketika aku menjadi bodoh
sekali. Memahami kata mir’ah saja tidak bisa. Lama sekali aku belum
maksud dengan apa yang ditanyakan.
“Apa ya? Mir’ah itu apa ya?”, tanyaku dalam hati sambil terus mengingat-ingat.
Oh, iya.
“Ma’lesiy, yaa anesah. Maa fisy. Aku tidak membawa cermin.”
“Oiya tidak apa-apa. Santai aja.. Tidak apa kok,”
Bagaimana aku tidak malu? Teman-teman Sarah yang lain sedang duduk
santai berkumpul di belakang persis. Semua kejadian datang tiba-tiba
sekali. Yah sudah lah.
Di dalam kamar aku cekikikan sendiri, senyum-senyum. Mengingat
rencana awal pulang dari masjid ternyata dikabulkan Tuhan Sang Maha
Cinta. Bukan hanya melihat, Sarah mendekatiku dan malah berbicara
langsung padaku. Hehehe.. hihihi..
“Alhamdulillah meski harus menahan panasnya mukaku yang memerah tadi,” batinku bersama senyum.
Di hari akhir, sewaktu mobil panitia yang hendak mengantarkan kami ke
stasiun siap berangkat, aku belum juga mendapatkan apa yang aku tuju
dari awal, nomor telpon Sarah. Teman-teman memasukkan barang bawaannya
satu persatu ke dalam mobil. Aku memilih jalan nekat.
“Akan aku dekati Sarah. Aku mau langsung ngomong sama dia.”
Meski klakson mobil sudah beberapa kali memperingatkan aku untuk segera
menyusul, aku tak peduli. Aku keluar dengan membawa barang bawaanku
perlahan. Mataku sambil mencari dimana hafidzah si empunya paras cantik
itu. Sesuai dengan apa yang aku lihat dari auranya. Aku mendapat info
dari teman Sarah tentang ia yang sudah hafal al quran sejak kecil.
Benar. Auranya bukan hanya cantik sembarang cantik.
Aku melihatnya.
Aku melihat Sarah bersandar di tembok depan kamar penginapan itu. Tanpa keraguan, aku melangkah berusaha lebih dekat.
“Aku akan kembali ke Kairo. Kamu juga pulang ke daerahmu. Kita tidak
akan bertemu untuk kedua kalinya. Ini pertemuan kita yang pertama dan
terakhir. Apa kamu tidak ingin minta nomer telponku untuk sekedar
berbincang?”, dengan bahasa Arab perlahan dan jelas.
Aku menunggu jawabannya.
“Masyi.. Iya, tentu aku ingin minta nomormu..”
Aku kaget bukan kepalang. Ternyata kepedeanku terbalas dengan keindahan.
Aku mengeja nomor telponku. Ia memasukkan digit-digitnya.
Kemudian, ia bertanya. Dan kalimat terakhir itu yang sampai sekarang terus merupa senyum kenangan yang tak terlupakan.
“Boleh aku misscall? Tapi jangan diangkat ya,”, katanya dengan semi manja khas gadis Mesir.
Nomor Sarah masuk di hapeku. Nomer itu.. Nomor yang aku sudah bertekad
tidak mau pulang tanpanya. Tak bisa aku menahan riang. Senyum mengembang
dari sudut bibirku. Dadaku sesak. Dan aku tidak pernah sebahagia ini.
Oh, Tuhan.. Terima kasih..
Saat aku hendak masuk mobil ternyata teman-teman keluar satu persatu
sambil sedikit kesal bercampur iri. Senda-sindir di dalam mobil pun riuh
mengantar kami ke stasiun. Aku sudah tak berpikir tentang apa yang
mereka katakan. Yang ada dalam benakku sekarang, aku sampai rumah
kemudian mencari tempat strategis untuk mengawali telponku.
—
Aku terus didesak oleh pertanyaan sejenis yang dilontarkan Syahid sedari tadi.
“Yaa gitu, hid.. Aku sih bukan bermaksud serius. Aku cuma ingin tau bagaimana karakter cewek Mesir, gitu tok..”
“Terus gimana?”
“Terus, terus? Terus gimana, mas?”, tanya Syahid diulang dalam beberapa tempo jeda aku bercerita.
—
Hubunganku dengan Sarah terus berlanjut jauh, jauh sekali. Iya.
Semenjak dari Aswan, sampai di rumah itu aku terus berhubungan dengan
Sarah melalui telpon.
Setiap hari menjelang malam aku menyisihkan waktu untuk berbincang dengan Sarah. Entah apa saja yang sudah terbahas.
Suatu kali, kata-kata yang membuat aku bergetar muncul. Sebenarnya
mungkin biasa bagi sejoli yang sedang merangkai asmara. Tapi, ini begitu
istimewa bagiku. Bagaimana tidak? Diucapkan dari gadis Mesir. Gadis
yang kecantikannya banyak menjadi wirid bagi mahasiswa baru dari luar
Arab.
“Subhaanallah, cantiknya.. Widih, widih ayune, rek.. Ckckck, Gustiii.. gustii.. Ayune, cah..”
Apa yang Sarah katakan padaku di penghujung telpon malam itu?
“Wahisytanii awiy, aku sangat merindukanmu..”
Aku tercengang. Sadar. Kembali tercengang lagi..
Bukan hanya itu yang membuatku bengong bin ndomblong. Di beberapa
kesempatan, Sarah memperkenalkan keluarganya padaku. Yaa, meski hanya
lewat telpon. Semuanya ia kenalkan padaku, ibunya, ayahnya, bahkan
pamannya. Dan itu yang aku belum tau apa di balik semua pada waktu itu.
Ternyata, bagi sebagian besar gadis Arab yang sudah serius memilih
pasangannya untuk menikah maka ia akan memperkenalkannya pada keluarga
besar tanpa malu-malu. Bahkan, setiap kali aku telpon pasti ia
senggangkan sapaan ibunya atau ayahnya untukku. Sampai suatu saat, ibu
Sarah berpesan padaku,
“Yaa, sudah, le.. teruskan belajarmu.. Jaga kondisimu, siddi haalak..”,
pesan ibunya sebelum telpon genggamnya dikembalikan pada Sarah lagi.
Aku merasakan hal yang wajar pada saat itu. Aku tidak tau isyarat apa yang Sarah dan keluarganya berikan?
Betapa bodohnya aku. Itu yang terus aku sesali pada jawaban yang aku lontarkan pada ibu Sarah pada suatu perbincangan.
“Nanti kalau sudah selesai belajar di al Azhar, apa kamu mau kembali ke
negaramu, le?”, tanya ibu Sarah dengan bahasa Arab tentunya.
“Iya, bu. Aku tidak mungkin di Mesir untuk selamanya. Lantas, aku
jauh-jauh dari asalku untuk menuntut ilmu dan aku tidak berniat kembali?
Bagaimana bisa ilmuku bermanfaat, bu?”, jawabku.
Semenjak saat itu, ibu Sarah tidak pernah ngobrol denganku lagi. Ada
hawa tidak enak yang juga aku rasakan dari jawabanku serta
pertanyaannya. Memang, sangat sulit bagi orang Mesir untuk melepas anak
gadisnya dibawa ke luar negaranya. Mungkin, hanya 1 dari 1000 orangtua
dalam tempo 1000 tahun. Itu yang menambah aku semakin merasa tidak enak
dengan jawabanku. Apalagi, aku menggunakan nada yang sangat mantap pada
saat itu. Tapi, tak apalah. Hubunganku dengan Sarah masih terus
berlanjut. Kemesraan demi kemesraan kami jalin tiap telpon hingga aku
benar-benar memaki pada dunia.
Hapeku rusak. Semua harus diinstal ulang dan aku lupa menyalin semua
nomer telpon yang ada di hape. Tak terkecuali nomer Sarah. Hilang.
Hilang sudah.
Hari-hariku kini sudah tidak bisa seperti kemarin. Hilang semua
kemesraan bersama hilangnya data-data di hapeku. Aku hanya bisa memaki
pada hari, pada tanggal, pada waktu, pada diriku sendiri. Memaki dan
mengumpat tanpa henti.
Namun, suatu hari aku dengar ada temanku yang masih menyimpan nomor
telpon salah satu rombongan Sarah dan komunitas teaternya. Senang
sekali. Bunga-bunga senyum kembali merekah seolah baru menggeliat
setelah bibit dari bunga mati tumbuh dan mendapat anugerah percikan air.
“Iya kan, mad? Masih punya kan?”, tanyaku pada teman yang juga ikut rombongan IPQI ke Aswan dulu.
Awalnya aku agak menggerutu. Bagaimana tidak? Nomornya ternyata punya
teman pria Mesir yang memang serombongan dengan Sarah. Masih ada
secercah syukur yang mendorongku untuk terus bagaimana caranya bisa
kembali berhubungan dengan Sarah.
“Gimana kabar, Ibrahim? Baik kan? Iya nih.. Nomer teman-teman yang dulu di Aswan hilang semua..”
Aku terus mencari jalan bagaimana kembali mendapat nomor Sarah. Aku
tidak mungkin langsung menanyakan nomor Sarah. Hal itu akan menjadi
bumerang bagiku. Pemuda Mesir sangat tidak suka apabila ada orang luar
berhubungan dengan gadis asli Mesir. Aku menyiasati dengan basa-basi
menitipkan salam untuk semua teman dari Aswan. Ibrahim memberiku banyak
sekali nomor telpon. Tapi, kenapa tidak ada yang cewek? Bagaimana ini?
Oh, yes! Ternyata ada nomor Hajar di situ.
Selanjutnya aku menghubungi Hajar. Harapan untuk kembali mendapatkan
nomor Sarah terus menggebu Basa-basi ngalor-ngidul. Beberapa kesimpulan
aku dapat dari awal aku ngobrol dengannya dulu. Hajar gadis yang tak
kalah agamis layaknya Sarah. Kejuaraan-kejuaraan hapalan quran juga
sering ia sabet bahkan sampai tingkat nasional di Mesir ini.
“Hmm, kamu ingat teman kita dulu yang apa namanya? Hmm.. apa itu? Yang
akting jadi ibu-ibu Palestin? Iya kan?”, tanyaku penuh selidik dan
pura-pura bodoh dengan bahasa Arab yang aku buat seolah terbata-bata.
“Iya, yang membawakan puisi itu kan? Sarah itu.. Kenapa?”, sergah Hajar.
Perbincangan aku dan Hajar berlanjut. Perlahan aku menanyakan kabar
Sarah. Nomornya pun aku dapat lagi di akhir perbincangan. Senang. Senang
sekali rasanya..
Seketika itu aku menghubungi Sarah. Menjalin tali mesra yang sempat
terulur dengan hilangnya nomor Sarah di hapeku. Malam-malam kembali
seperti malam-malam yang aku telah lama impikan. Dengan senda tawa gadis
Mesir, dengan kisah-kisahnya, dan dengan kemesraan yang Sarah bingkis
tiap kali menjalin kontak.
Tapi, kali ini aku agak merasa ada yang beda. Sikapnya berbeda. Bukan
sikap Sarah. Sikap gadis yang memberitahu nama Sarah padaku.
Ya. Hajar. Hajar semakin sering menghubungiku siang malam tak mengenal
waktu. Bahkan lebih intens dari Sarah. Aku tak menganggap risih ataupun
timbul rasa. Karena dari awal memang aku blak-blakan dengan Hajar begitu
juga sebaliknya.
Suatu hari, ia juga meminta dengan nada polos supaya aku menjadi
kakak baginya. Ia juga menceritakan keinginannya melanjutkan kuliah di
al Azhar. Semuanya, semua ia ceritakan padaku. Aku pun bersikap biasa
dengannya.
Waktu terus berjalan, aku dan Sarah kembali menjalin hubungan tanpa
ada rasa terganggu dengan sikap Hajar, malang kembali padaku. Hapeku
hilang pada saat aku naik tremco. Bukan hanya nomor hilang sekarang,
bukan hanya makian dan umpatan yang keluar. Aku sempat kacau dengan
masalah ini. Tak tahu harus bagaimana aku harus bertindak. Hilang.
Hilang sudah. Hilang untuk yang kedua kalinya dan mungkin untuk
selamanya. Ya, sudah lah.
Aku tidak bisa berhubungan dengan Sarah. Hajar juga tidak bisa kembali
banyak bercerita padaku. Hari-hari kembali pada masa aku sebelum
mengenal Sarah. Yang sekarang berjalan hanya tinggal aku dan waktu.
Pada suatu Jumat pagi aku teringat. Aku pernah bertukar alamat email
dengan Hajar. Rasa rindu pada Sarah dan kabar Hajar sekarang muncul.
Apakah aku bisa kembali menghubungi Sarah? Apakah sekarang Hajar
meneruskan studinya di al Azhar, Kairo?
Aku terhenyak. Terhenyak setelah aku membuka akun emailku yang sudah
lama sekali tak pernah aku buka. Di dalamnya ada sebuah email dari
Hajar. Tertulis jelas dengan tulisan Arab.
“Mas, kenapa aku tidak bisa lagi menghubungimu? Nomormu tidak aktif.
Bagaimana kabarmu sekarang. Aku sangat merindukanmu, mas. Sungguh.. Aku
merindukanmu. Aku ingin bisa kembali menghubungimu. Hubungi aku ya,
mas.. Aku menantimu. Aku mencintaimu.
Hajar, adikmu dari Aswan.”
Aku tak bisa mencerna-paham dari kalimat-kalimat itu. Apakah yang
rasakan berbeda dengan apa yang Hajar pikirkan? Apakah Hajar memanggilku
‘mas’ dengan harapan aku bersamanya dalam satu rumah tangga? Apakah ia
berharap aku menjadi pasangannya? Lantas bagaimana dengan Sarah?
Menghubunginya pun tak bisa.
Aku membalas email itu dengan beribu kata maaf dan maaf. Aku
menceritakan semuanya tentang kenapa aku tidak bisa dihubungi. Lalu, aku
menyertakan nomorku yang baru.
Namun, hingga kini emailku belum juga dibalas. Hapeku juga tak pernah
menerima pesan atau telpon dari Hajar apalagi Sarah. Mungkin Hajar lupa
password akun emailnya -aku berusaha menetralkan prasangka- atau ia tak
sempat membukanya, karena jauh-jauh hari emailnya pun belum terbalas
olehku.
—
“Ayo turun, hid.. Sudah sampai Duwai’ah..”, sambil segera mendekat ke pintu depan mobil tremco.
(telah dimuat di Harian Berita Metro Surabaya, dibuat menjadi dua bagian, Sabtu, 2 Februari 2013 dan 9 Februari 2013)
Cerpen Karangan: Mu’hid Rahman
Blog: zuwayla.blogspot.com
Pegiat blog dan mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo.